LAMPUNG TENGAH – (KomalaNews.com) – Kisah I Komang Koheri tidak sekadar perjalanan seorang politisi menuju kursi kepala daerah. Di balik namanya, terdapat cerita tentang keluarga transmigran asal Bali yang sejak lebih dari tujuh dekade lalu memilih meninggalkan tanah kelahiran demi membangun kehidupan baru di Lampung.
Kini, anak dari keluarga transmigran tersebut berada di posisi penting dalam pemerintahan Lampung Tengah.
I Komang Koheri, kelahiran Seputih Raman, Lampung Tengah, 25 November 1972, merupakan Wakil Bupati Lampung Tengah periode 2025–2030. Namun, perkembangan politik daerah membuat perannya kini jauh lebih besar.
Sejak Juni 2026, Koheri menjalankan tugas dan kewenangan sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lampung Tengah setelah Menteri Dalam Negeri memberhentikan sementara Bupati Ardito Wijaya dan menunjuk dirinya sebagai Plt.
Bahkan, hingga awal Oktober 2026, Koheri masih menjalankan roda pemerintahan Lampung Tengah. Pada 1 Oktober 2026, misalnya, ia melantik Sulpakar sebagai Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Tengah untuk mengisi kekosongan jabatan sekda definitif.
Perubahan posisi tersebut membuat sosok Koheri kembali menjadi perhatian. Dari seorang anak transmigran Bali, ia kini dipercaya memimpin sementara salah satu kabupaten di Provinsi Lampung.
Dari Kerambitan Tabanan ke Lampung
Darah Bali mengalir kuat dalam diri Koheri.
Ia merupakan putra pasangan I Made Linteb dan Ni Made Sasih. Keduanya berasal dari wilayah Kerambitan, Tabanan, Bali.
Ayahnya, I Made Linteb, mengikuti program transmigrasi ke Lampung pada 1952. Ketika itu, Linteb masih muda dan memilih meninggalkan Bali dengan harapan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya kelak.
Koheri lahir dan tumbuh di Kampung Rama Dewa, Kecamatan Seputih Raman. Kampung tersebut menjadi salah satu kawasan yang dihuni masyarakat keturunan Bali sejak program transmigrasi.
Catatan sejarah lokal menyebut masyarakat Bali mulai ditempatkan di wilayah yang kini dikenal sebagai Kampung Rama Dewa pada 1952. I Made Linteb kemudian pernah dipercaya menjadi kepala kampung pada 1968–1976.
Dari keluarga transmigran itulah perjalanan Koheri dimulai.
Ia menempuh pendidikan di SD Negeri 1 Rama Dewa, SMP Negeri 1 Seputih Raman, kemudian SMA Negeri 1 Kotagajah.
Setelah itu, Koheri melanjutkan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Lampung dan meraih gelar sarjana ekonomi pada 1996.
Namun, perjalanan hidupnya tidak langsung menuju politik.
Saat masih kuliah, Koheri telah terjun ke dunia usaha. Ia pernah berdagang beras dan mengalami sendiri pasang surut bisnis, termasuk ketika biaya pengolahan gabah menjadi beras lebih tinggi daripada harga jualnya.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu modalnya sebelum masuk ke dunia politik.
Dari Pengusaha ke Gedung DPR
Koheri kemudian memilih jalur politik.
Ia pernah menjadi Ketua DPC PNI Marhaenisme Lampung Tengah sebelum kemudian aktif bersama PDI Perjuangan.
Karier legislatifnya dimulai di DPRD Provinsi Lampung. Ia tercatat menjadi anggota DPRD Lampung selama dua periode, 2009–2019.
Pada Pemilu 2019, Koheri melangkah lebih jauh dengan maju sebagai calon anggota DPR RI dari daerah pemilihan Lampung II.
Ia kemudian duduk di DPR RI periode 2019–2024.
Menariknya, kiprah politik Koheri tidak hanya bertumpu pada komunitas masyarakat Bali.
Sejak lama ia juga membangun hubungan dengan masyarakat lintas etnis di Lampung. Dalam pemberitaan menjelang Pemilu 2019, Koheri menyebut dirinya ingin merangkul berbagai kelompok masyarakat, tidak hanya mengandalkan dukungan masyarakat Bali perantauan.
Di tengah komunitas Bali Lampung, ia juga dikenal melalui keterlibatannya dalam paguyuban masyarakat Bali.
Keluarganya pun memiliki jejak politik. Istrinya, Ni Ketut Dewi Nadi, pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Lampung, sedangkan kakaknya, Ni Made Winarti, juga pernah duduk di DPRD Kabupaten Lampung Tengah.
Menang Pilkada dengan 369.974 Suara
Puncak perjalanan politik Koheri di tingkat daerah terjadi pada Pilkada Lampung Tengah 2024.
Ia berpasangan dengan Ardito Wijaya.
KPU Lampung Tengah menetapkan pasangan Ardito Wijaya-I Komang Koheri sebagai pasangan calon terpilih melalui Keputusan KPU Lampung Tengah Nomor 1 Tahun 2025.
Pasangan tersebut memperoleh 369.974 suara atau 63,71 persen suara sah. Sementara pasangan Musa Ahmad-Ahsan As’ad Said memperoleh 210.741 suara atau 36,29 persen.
Kemenangan tersebut mengantarkan Koheri ke kursi Wakil Bupati Lampung Tengah untuk periode 2025–2030.
Ia kemudian dilantik bersama Ardito Wijaya sebagai kepala daerah hasil Pilkada 2024.
Dari Wakil Bupati Menjadi Plt Bupati
Belum genap satu tahun menjalankan pemerintahan, situasi politik Lampung Tengah berubah.
Ardito Wijaya terseret perkara hukum dan kemudian diberhentikan sementara dari jabatan Bupati Lampung Tengah.
Pada Juni 2026, Menteri Dalam Negeri menunjuk Koheri sebagai Plt Bupati Lampung Tengah. Keputusan tersebut menetapkan Koheri untuk menjalankan tugas dan kewenangan bupati selama Ardito berstatus diberhentikan sementara.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal kemudian menyerahkan SK tersebut kepada Koheri pada 23 Juni 2026.
Dalam menjalankan mandat tersebut, Koheri mengatakan tanggung jawab utamanya adalah memastikan roda pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.
Posisi tersebut membuat perjalanan Koheri menjadi menarik: seorang anak transmigran yang lahir jauh dari tanah leluhurnya di Bali, kemudian tumbuh sebagai pengusaha, masuk legislatif, menjadi anggota DPR RI, memenangkan Pilkada, lalu dipercaya menjalankan tugas kepala daerah.
Identitas Bali Tetap Melekat
Meski lahir dan besar di Lampung, identitas Bali tidak hilang dari kehidupan Koheri.
Ia menikah dengan Ni Ketut Dewi Nadi dan dikaruniai dua anak, Luh Tasya Saraswati dan Komang Raja Seva Mayday.
Kisah keluarganya menjadi gambaran bagaimana komunitas Bali berkembang di tanah transmigrasi.
Generasi pertama datang membawa harapan untuk mengubah nasib.
Generasi berikutnya tumbuh dan bersekolah di Lampung.
Sementara generasi setelahnya mulai memasuki ruang-ruang sosial, ekonomi dan politik di daerah tempat keluarga mereka menetap.
Koheri menjadi salah satu contoh dari perjalanan tersebut.
Lebih dari 70 tahun setelah ayahnya meninggalkan Bali, putra keluarga transmigran itu justru berada di salah satu posisi tertinggi dalam pemerintahan daerah tempat keluarganya memulai kehidupan baru.
Kini, tantangan Koheri bukan lagi sekadar membuktikan bahwa anak transmigran mampu menembus politik lokal.
Sebagai Plt Bupati Lampung Tengah, ia harus memastikan pemerintahan tetap berjalan di tengah situasi transisi dan berbagai persoalan birokrasi.
Pada 1 Oktober 2026, salah satu langkah terbarunya adalah mengisi kekosongan jabatan Sekda dengan melantik Sulpakar sebagai Pj Sekdakab. Dalam kesempatan itu, Koheri menekankan pentingnya integritas, koordinasi antarorganisasi perangkat daerah dan pelayanan kepada masyarakat.
Dari Rama Dewa, Seputih Raman, perjalanan Koheri akhirnya membawa nama keluarga transmigran Bali itu ke pusat pemerintahan Lampung Tengah.
Sebuah perjalanan lintas generasi: ayahnya datang ke Lampung untuk mencari masa depan, anaknya kini ikut menentukan masa depan daerah tersebut. (Tim-Red)













